
Negara Indonesia terkenal dengan berbagai kebudayaan yang sangat banyak.
Suku Korowai merupakan salah satu tradisi aneh yang berada di Indonesia, suku Korowai terdapat di daerah pedalaman kawasan Papua bagian dalam dan keberadaannya juga tidak mudah untuk ditemukan.
Suku Korowai memiliki tempat tinggal yang sangat unik, yaitu mendirikan rumah di atas pohon hingga tingginya puluhan meter. Orang Korowai melakukan hal itu dengan alasan agar terhindar dari resiko banjir dan serangan hewan buas.

Apakah suku korowai kanibal???
Rumor tersebut mengundang ketertarikan dunia pada suku korowai sekaligus merasa takut untuk mengunjunginya.
Setelah ditelusuri, ternyata suku Korowai tidak memakan daging manusia untuk makanan sehari-hari.
*kebayang dong kalo makanan sehari-harinya daging manusia, bisa-bisa itu keluarga saling ngebunuh buat makan doang.. T_T
Mereka memakan daging manusia bukan tanpa alasan. Mereka melakukan ritual itu untuk manusia yang melanggar peraturan yang telah mereka tetapkan.
Jadi tradisi tersebut dilakukan sebagai bentuk hukuman bagi orang yang melakukan kejahatan atau sesuatu hal yang melanggar lainnya.
Ada yang mengatakan bahwa suku Korowai melakukan tradisi kanibalisme karena menganggap adanya seorang khakua ( penyihir ) yang menyamar menjadi seorang lelaki anggota mereka. Khakua juga dianggap sebagai penyakit yang bisa menyebar ke etnis mereka.
Bagi masyarakat Korowai, ketika ada orang yang meninggal didepan mata mereka dengan jelas seperti jatuh dari ketinggian atau terbunuh dalam pertempuran perang maka itu jelas. Tetapi ketika salah satu warga meninggal secara misterius mereka menganggap itu adalah sihir. Contohnya, Misalkan ketika ada orang sakit lalu keesokan harinya meninggal maka itu dianggap adanya mata-mata dan mereka itu adalah khakua.
Bagi mereka khakua harus dibunuh dengan cara dimakan dan seorang yang mati secara misterius tersebut dianggap khakua. Suku Korowai tidak memahami kuman dan mikroba sehingga mereka tidak merasa jijik saat memakan daging manusia…
*ikhhh…
Tapi mungkin di tahun sekarang tradisi ini sudah tidak terlalu dipakai, karena ada beberapa orang yang berpindah tempat dari daerahnya.
Kalo semisal masih tradisi ini masih ada mungkin penduduk pedalaman Papua ini sudah musnah sedangkan mereka sudah hidup sekitar puluhan tahun lamanya dan masih ada sampai sekarang.